Selasa, 06 Maret 2012

Pengelolaan Air Bersih Berbasis Masyarakat

                                

Tujuan :

  1. Memastikan proyek air bersih berjalan sesuai tujuan.
  2. Menjamin keberlanjutan program air bersih tetap dikelola dengan baik oleh masyarakat walaupun pendampingan dari LSM telah berakhir di desa tersebut.
  3. Meningkatkan dan mempertahankan akses keluarga miskin terhadap air bersih secara berkelanjutan.


Penjelasan

Social Preparation
Langkah pertama dalam proyek ini adalah melakukan persiapan social yang bertujuan agar seluruh anggota masyarakat dan pemerintah mengetahui tujuan proyek, kesiapan mereka berpartisipasi dalam proyek dan komitmen dari masyarakat untuk memelihara proyek tersebut agar dapat terus menerus dinikmati oleh masyarakat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah agar tertanam rasa kepemilikan dari masyarakat. Persiapan social dilakukan melalui pertemuan – pertemuan dengan kelompok – kelompok masyarakat seperti kelompok ibu – ibu, kelompok bapak – bapak dan tokoh masyarakat serta pemerintah. Bahkan dengan kelompok anak baik laki – laki maupun perempuan. Dari seramgkaian pertemuan tersebut terjadilah kesepakatan bahwa masyarakat akan bersungguh – sungguh untuk menyukseskan proyek tersebut dengan memberikan kontribusinya berupa tenaga, pikiran dan bahkan material jika saatnya dibutuhkan. Disamping itu juga dilakukan penyadaran – penyadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air dengan melakukan berbagai tindakan seperti penghutanan kembali atau kegiatan lain yang bertujuan untuk melakukan perlindungan terhadap sumber air seperti kegitan konservasi secara terintegrasi dengan peruntukkan lainnya.

Hal penting yang juga dilakukan adalah bagaimana memanfaatkan air sebijak mungkin serta bagaimana mengoptimalkan fungsi air dalam kehidupan seperti kesehatan lingkungan dan tempat tinggal atau bagaimana air dapat digunakan untuk pengembangan tanaman obat dan tanaman gizi dengan menggunakan tanah pekarangan dan seterusnya. Hal lain yang juga perlu dipersiapkan sejak awal adalah bahwa kalau masyarakat menginginkan terus menerus menikmati air bersih ini maka sejak awal mereka diajak menghitung kira – kira berapa besar iuran yang harus mereka kontribusikan kepada Badan Pengelola. Iuran itu akan digunakan sebagai biaya operasional dan pemeliharaan serta tabungan untuk mempersiapkan penggantian instalasi ketika usia teknis dan ekonomis dari system ini sudah berakhir.  Jika perlu penghitungan dilakukan secara terbuka dengan melibatkan sebanyak – banyaknya calon pemanfaat dan para pihak yang berkepentingan dengan system air bersih ini :

Berikut adalah contoh perhitungan iuran bulanan secara sederhana :

Estimasi :
Nilai proyek                : 75.000.000
Usia instalasi               : 5 tahun (60 months)
Beneficiaries               : 150 KK

Maka               = 75.000.000  
                           ---------------- = 500.000   x 1/60      
                                    150     


Iuran                = 3.300/kk/month

Artinya pada tahun ke enam masyarakat telah mengumpulkan dana sebesar Rp. 75.000.000 untuk mengganti instalasi tersebut karena diasumsikan usia ekonomis dan teknis telah mencapai 5 tahun sehingga instalasi tersebut dianggap telah aus, maka harus dilakukan penggantian system secara keseluruhan. Nilai Rp. 75.000.000 jelas merupakan bukan nilai pasti karena tentu nilai uang akan mengalami penyesuaian dalam kurung waktu 5 tahun itu misalnya inflasi, fluktuasi harga material dan biaya operasional lainnya yang sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap penyesuaian harga. Ini dihitung secara bersama – sama dengan masyarakat sehingga mereka merasakan betul – betul menjadi pemilik sesungguhnya. Dengan demikian kita telah meminimalisir potensi konplik di antara mereka karena semuanya telah jelas dari awal.

Establishing a project committee
Setelah persiapan social dirasa telah cukup matang, maka dilanjutkanlah pada step selanjutnya yaitu pembentukan panitia proyek dalam suatu musyawarah. Panitia proyek tersebut dipilih oleh masyarakat secara demokratis sehingga mereka yang terpilih akan menyadari bahwa mereka adalah orang – orang yang dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi panitia proyek. Panitia proyek mempunyai struktur organisasi dimana setiap orang mempunyai tugas dan tanggungjawab masing – masing berdasarkan posisinya dalam struktur organisasi. Panitia proyek inilah yang akan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan selama pekerjaan proyek. Pengelolaan kebutuhan proyek tersebut tentunya akan disesuaikan dengan mekanisme yang kemungkinan terjadi dalam pelaksanaan proyek . Apakah pengelolaan oleh masyarakat sendiri atau dengan pembelian material oleh donatur. 

Akan tetapi biasanya jika proyeknya membutuhkan tenaga ahli dan peralatan dalam jumlah besar dengan jumlah dana yang besar, maka akan dikelola oleh lembaga donor pengadaan materialnya. Sedangkan masyarakat akan melakukan pekerjaan pemasangan material, atau mengkordinir tenaga kerja yang akan membantu. Setelah proyek selesai dan telah diterima oleh masyarakat, maka panitia proyek akan membuat laporan pertanggungjawaban sebagai bentuk tanggungjawab panitia proyek dalam mengelola proyek tersebut. Pemilihan teknologi dan material yang akan digunakan dalam proyek melalui diskusi dengan panitia proyek agar mereka mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana mekanisme dan aturan main serta prinsip – prinsip kerja yang dianut oleh lembaga donor. Proses ini juga adalah dalam rangka melakukan transformasi tentang cara kerja yang professional yang terbebas dari KKN.  Setiap alasan – alasan yang melatarbelakangi sebuah keputusan dijelaskan secara terbuka dan transparan yang tentunya didukung oleh fakta – fakta yang rasional.    

Establishing a community water management body
Setelah semua pengerjaan fisik seperti instalasi pipa, pembangunan  bak – bak penampungan dan lain – lain telah rampung, maka proyek dianggap telah selesai. Maka tahap selanjutnya adalah pembentukan Badan Pengelola Air Minum (BPAM)  yang bertugas mengkordinir pemanfaatan air minum oleh keluarga dan masyarakat. BPAM dibentuk melalui musyawarah yang diikuti oleh anggota masyarakat seperti kelompok ibu – ibu dan kelompok bapak – bapak serta para tokoh baik tokoh agama maupun tokoh masyarakat bahkan suara anak juga perlu dipertimbangkan. Mereka dipilih secara demokratis. BPAM akan menyusun rancangan AD/ART, program kerja dan lain – lain yang bertujuan untuk mengembangkan kapasitas organisasi. Struktur BPAM terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, teknisi dan seterusnya disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam rangka memperkuat kapasitas organisasi, maka pengurus BPAM akan difasilitasi untuk mendapatkan pelatihan managemen organisasi (leadership), bussines plan, administrasi keuangan, teknisi dan seterusnya disesuaikan dengan kebutuhan. Hasil – hasil kerja dari pengurus BPAM akan dipertanggungjawabkan pada pertemuan Rapat Anggota Tahunan. Rapat Anggota Tahunan ini adalah mekanisme pengambilan keputusan organisasi yang paling tinggi kedudukannya. RAT akan mengevaluasi kinerja pengurus dan sekaligus sebagai media untuk memutuskan program kerja dari pengurus BPAM. Masa bakti kepengurusan dan aturan main lainnya diatur dalam AD/ART.

Monitoring dan Evaluasi
Mekanisme monitoring dan evaluasi sebaiknya diatur dalam aturan main yang telah disepakati misalnya pertemuan pengurus sekali sebulan atau dua kali sebulan, dipersilahkan untuk mengaturnya sesuai kebutuhan. Yang pasti setiap tahun akan ada RAT yang akan menjadi media pengambilan keputusan tertinggi organisasi yang dihadiri oleh sebanyak – banyaknya anggota.  

Penutup
Jika alur proses tersebut di atas telah dilakukan bersama dengan mereka, maka jangan lupa untuk melakukan refleksi dan penyegaran serta monitoring dan evaluasi secara bertahap. Hal ini dilakukan agar terjadi internalisasi prinsip – prinsip kerja yang sistimatis di kalangan pengurus yang akhirnya berimplikasi kepada penciptaan sumber daya manusia yang professional di masyarakat. Demikianlah inputs dari saya  sekedar berbagi pengalaman, siapa tahu ini dapat membantu teman – teman dalam memfasilitasi proses yang relative sama dengan pengalaman tersebut di atas. Sedangkan untuk penyempurnaan dari proses tersebut di atas silahkan teman – teman semua melakukannya di lokasi yang didampingi yang tentunya disesuaikan dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi. Selamat bekerja dan tetap sukses.   



Ditulis di Rembang – Jawa Tengah
Juli 2005.


Daeng Gajang

Minggu, 04 Maret 2012

Cerita dari Bangladesh

Kunjungan ke Bangladesh yang berlangsung dari 21 – 27 Nopember 2008 sungguh merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Kegiatan di Bangladesh adalah dalam rangka mengikuti global meeting the Food and Nutrition Security Program kerja sama dengan Plan Belanda. Peserta dari meeting ini antara lain dari Asia ( Bangladesh dan Indonesia), Afrika (Benin, Ghana, Ethopia), Amerika Latin (Peru, dan Nigaragua). Meeting berlangsung di Hotel Blossoom Asia Pacific yang terletak
di Biadara Road
. Pada meeting ini juga diagendakan kunjungan lapangan di salah satu Program Unit di Plan Bangladesh yaitu PU Sreepur yang berlangsung pada 24 Nopember 2008. Berikut oleh – olehnya :


Pada 21 Nopember 2008 meninggalkan Jakarta dengan menggunakan SQ Air pada pukul 14.00 wib melalui Singapura dan selanjutnya ke Dhaka pada malam hari sekitar pukul 20.00 waktu Singapura dan sampai di Dhaka pada pukul 21.35 waktu Dhaka (2 jam lebih lambat dari wita). Setelah menyelesaikan pemeriksaan passport oleh petugas imigrasi di Bandar udara international Ziaurrahman Dhaka, selanjutnya melakukan penukaran uang dari dollar ke taka. 1 $ sama dengan 68 taka. Kami telah ditunggu oleh jemputan dari hotel tempat kami menginap yaitu Hotel Blossom Asia Pacific. Hotel ini sekelas bintang 3 namun fasilitasnya lebih sederhana dibandingkan hotel sekelas di Indonesia. Rombongan dari Plan Indonesia terdiri dari 6 orang yaitu saya sendiri Syamsu Salewangang (AM NT Area), Wahdini Hakim (Health Specialist CO), Agusman Rizal (FNS Coordinator NT), Duma Octavia (Health Coordinator NT Area), Sabaruddin (PUM PU Lembata) dan Nurhasanah (FNS Facilitator PU Dompu).

Pada 22 Nopember 2008, kami menghabiskan waktu seharian di ruang meeting hotel untuk menyelesaikan bahan – bahan presentasi yang belum rampung sejak dari Indonesia (Dompu dan Jakarta). Malam harinya, kami makan malam di Restoran Golden Rice di sekitar pusat kota Dhaka. Ke restoran ini dengan menggunakan jasa rental car yang disediakan oleh hotel. Biayanya sekitar 500 taka perjam. Setelah makan malam, kami jalan – jalan di pusat perbelanjaan Gulshan II. Katanya sih disinilah pusat kota Dhaka seperti bundaran HI di Jakarta. Namun kondisinya sangat semrawut dan jorok. Sebenarnya lebih layak dibilang pusat pasar grosir tradisional karena sangat jauh dari penataan sebagai mana pusat – pusat kota besar lainnya di dunia.

Pada 23 Nopember 2008, pembukaan kegiatan dilakukan di salah satu hotel di Dhaka yang lokasinya di sekitar Gulshan I yaitu Hotel Lake. Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan dari kementrian kesehatan dan pertanian Bangladesh yang terkait langsung dengan program Food and Nutrition Security. Juga dihadiri oleh perwakilan kedutaan besar Belanda di Dhaka. Setelah pembukaan, sesi presentasi dari setiap negara peserta dilakukan dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Yang menarik adalah peserta dari kawasan Amerika Latin yang terdiri dari Peru dan Nicaragua tidak bisa berbahasa Inggeris, jadi mereka harus selalu didampingi oleh translator bahasa Spanyol. Asyik juga nih berdiskusi dengan berbagai macam bahasa yaitu English, Bangladesh, Spanyol, France dan Indonesia.  

Pada 24 Nopember 2008, agenda workshop adalah membuat road journey dan rich picture dari Livelihood Learning Group oleh setiap Negara. Pembuatan road journey oleh Indonesia, Bangladesh dan Nigaragua. Sedangkan untuk rich picture adalah Ethopia, Peru, Ghana dan Benin. Setiap negara mempresentasikan hasil kerjanya dan disertai dengan tanya jawab. Kami sendiri dari Indonesia berbagi cerita sukses tentang Penguatan Komite Pangan dan Gizi Desa dalam penurunan jumlah balita gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Sikka, Lembata dan Dompu. 

Pada 25 Nopember 2008, kunjungan lapangan di Sreepur PU. Perjalanan ke PU Sreepur, sekitar 2 jam dari Dhaka dengan menggunakan mobil. Setelah rombongan diterima oleh Program Unit Manager (PUM) dan dijelaskan tentang Program Unit (PU) Sreepur. Staf PU Srepur terdiri atas PUM dan beberapa Project Officer. Dalam mengimplementasikan program – programnya, PU Sreepur bermitra dengan beberapa NGO local sesuai dengan keahlian dari masing – masing NGO. Misalnya agriculture, microfinance, etc. Selanjutnya rombongan melakukan kunjungan ke desa – desa yang telah disiapkan yaitu antara lain kegiatan vaksinasi ternak sapi dan ayam, training kompos dan agriculture, kunjungan ke salah satu rumah tangga, komite desa, kunjungan ke pemerintah local (kepala union dan kepala sub district). 

Kunjungan ke posyandu hewan ternak
Kegiatan utama dari kelompok ini adalah vaksinasi hewan ternak yang umumnya adalah  sapi dan ayam. Kegiatan ini difasilitasi oleh mantri peternakan dari level kecamatan yang bekrja sama dengan kelompok peternak di desa – desa. Jadwal vaksinasi dari ternak – ternak tersebut telah diatur sedemikian rupa secara periodek. Setiap kali vaksin, para peternak membayar sebesar 2 taka perekor. Untuk lebih memudahkan memahami mekanisme kerja dari kelompok ternak ini, saya menyebutnya dengan Posyandu hewan ternak. Hasil dari peternakan sapi dan ayam yang dikelola oleh kelompok ini digunakan untuk kegiatan pertanian, dijual ke pasar hewan dan susu sapi. Sayang sekali waktu kunjungan sangat tergesa – gesa sehingga tidak sempat mendalami lebih jauh tentang kegiatan peternakan ini. Misalnya bibit, analisa usaha, pasar, kontribusi terhadap income, dan lain – lain.

Kunjungan ke kelompok agriculture
Pada saat kunjungan, mereka sedang mengadakan pelatihan pupuk kompos yang difasilitasi oleh staf dinas pertanian dari level kecamatan. Kegiatan ini juga adalah atas kerja sama antara kelompok tani dengan dinas pertanian setempat. Kompos digunakan untuk tanaman padi, sayur – sayuran dan tanaman pekarangan lainnya.

Kunjungan ke rumah tangga
Tradisi rumah tangga di Bangladesh sama dengan di India yaitu mereka tinggal bersama dengan keluarga besar. Biasanya dalam satu rumah terdiri dari beberapa rumah tangga. Semua anak laki – laki akan membawa isterinya tinggal bersama di rumah dan semua anak perempuan akan ikut tinggal bersama keluara suaminya. Bangunan rumah terdiri atas beberapa bangunan yang berhadap – hadapan sehingga membentuk persegi empat. Bagian tengah adalah tanah kosong yang sekaligus digunakan untuk menjemur padi, pakaian, dan kegiatan pengolahan pangan lainnya. Dapur berada pada salah satu bangunan. Rumah tradisional terbuat dari tanah liat yang dibentuk menyerupai bangunan yang terbuat dari batu dan semen. Dinding dan lantai sama – sama terbuat dari tanah sedangkan atap terbuat dari genteng yang juga terbuat dari tanah liat.

Kunjungan ke Pemerintah Union
Tingkatan pemerintahan di Bangladesh terdiri atas pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah district (kabupaten), pemerintah kecamatan (sub district), pemerintah union, pemerintah desa. Level union biasanya terdiri dari 10 – 15 desa. Union juga adalah daerah otonom dimana pemerintahnya dipilih langsung oleh rakyat. Pemerintah di tingkat union mengkoordinir kemitraan dengan lembaga – lembaga non pemerintah yang bekerja di wilayah masing – masing dengan melakukan rapat koordinasi secara periodek sehingga hubungan yang sangat harmonis antara lembaga – lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah dapat berjalan dengan baik.

Kunjungan ke pemerintah sub district
Kunjungan ke pemerintah tingkat sub district diterima oleh wakil kepala sub district dan didampingi oleh wakil – wakil dari departemen antara lain pertanian, peternakan, pendidikan, kesehatan dan sanitasi dan lingkungan hidup. Yang dijelaskan adalah bagaimana peran dari pemerintah setempat memfasilitasi kerja sama antara pemerintah dan NGO dengan melakukan rapat koordinasi yang terjadwal dan kunjungan ke masyarakat. Dia menjelsakn pula keberhasilan yang dicapai atas kerja sama dengan NGO adalah tercapainya 100% ketersediaan latrine (jamban keluarga) di wilayahnya.
Ada sesuatu yang membuat saya sangat penasaran setiap kali diterima di ruang meeting oleh pemerintah setempat. Sesuatu itu adalah pada kursi pimpinan, selalu ditaruh sehelai handuk di bagian sandaran kursi tersebut. Karena rasa penasaran yang tak tertahanka, maka sayapun bertanya kepada salah seorang staf pemerintahan yang dikunjungi perihal handuk yang terpajang di kursi pimpinan tersebut. Ooo my GOD, ternyata itu adalah simbol penghargaan bagi 'pemimpin' yang duduk di kursi tersebut. Cuma sayangnya saya tidak mendapatkan penjelasan lebih lanjut, mengapa menggunakan handuk? Bukankah Bangladesh sangat terkenal dengan produksi kain sari? Mengapa bukan kain sari? Tapi sudahlah, yang terpenting saya sudah tahu bahwa kursi yang digantungi handuk adalah kursi yang akan diduduki oleh pemimpin sebagai bentuk penghormatan.

Pada 26 Nopember 2008, kegiatan workshop kembali dilakukan di ruangan dengan agenda sebagai berikut refleksi untuk hari kedua yang dibawakan oleh Plan Indonesia dan refleksi hari ketiga oleh Plan Peru dan Nigaragua. Saya sendiri mempresentasikan hasil – hasil refleksi yang dihasilkan oleh Plan Indonesia. Agak nerfous juga membacakan presentasi ini karena harus dalam bahasa Inggeris. Namun setelah memulai, keadaan dapat dikendalikan dengan baik dan presentasi dapat berjalan dengan normal. Memang harus lebih banyak lagi membaiasakn diri berkomunikasi verbal dalam bahasa Inggeris agar nerfouse dapat diminimalisir jika tampil pada event – event international termasuk membaca teks – teks dalam bahasa Inggeris dengan suara. Agenda selanjutnya adalah presentasi dari Benin dan Ghana karena mereka terlambat datang sehingga agenda yang seharusnya dilakukan pada hari pertama dan kedua, dengan terpaksa dilakukan lagi khsusu untuk kedua negara ini. Yang menarik adalah presentasi Benin yang dibawakan dengan menggunakan bahasa France. Sedangkan Ghana dibawakan dalam bahasa Inggeris karena ternyata Ghana adalah salah satu negara yang berutur dalam bahasa Inggeris.

Pada 26 Nopember 2008, salah satu presentasi yang menarik adalah tentang the most significant change yang dibawakan oleh Evelin dan sharing field practice oleh PSM Plan Bangladesh (Mr. Syaiful Islam).

Pada 27 Nopember 2008, penyusunan action plan dari masing – masing negara dan evaluasi. Setiap negara mempresentasikan action plan yang akan dilakukan dalam rangka menindaklanjuti beberapa rekomendasi yang dihasilkan selama workshop sehingga ALP betul – betul dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas program terutama FNS project.

Pada 27 Nopember 2008 malam diadakan jamuan makan malam oleh Plan Bangladesh di salah satu restoran mewah di Dhaka. Makan malam diisi dengan pertunjukan kesenian tradisional yang dipersembahkan oleh kelompok binaan dari Plan Bangladesh. Kesenian yang ditampilkan adalah musik dan tari tradisional Bangladesh. Karena musiknya sangat mirip dengan irama musik dangdut, maka saya memberanikan diri menyanyi dangdut yaitu Qana. Ternyata lagu qana yang saya bawakan seadanya ini cukup membuat suasana menjadi lebih hidup dan lebih cair karena semua peserta akhirnya berjoget dan menari bersama. Lumayan suasana makan malam ini cukup membawa kondisi lebih segar dan enjoy. Dan pada malam itu pula selepas makan malam, rombongan Plan Indonesia langsung ke Bandara Zia untuk pulang ke Jakarta dengan pesawat SQ pada jam 23.00 waktu Dhaka via Singapura dan mendarat di Bandara Sukarno Hatta pada pukul 8.00 wib.               



Ditulis di Jakarta pada 1 Desember 2008



Syamsu Salewangang Daeng Gajang  

Rabu, 08 Februari 2012

Rakyat Takalar butuh Bupati sekaligus Pemimpin

Ulang tahun Kabupaten Takalar tahun ini sungguh istimewa karena akan ada peristiwa besar yang akan terjadi pasca perayaan ulang tahun ini antara lain Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Takalar pada Oktober 2012. Pemilukada bukan hanya sekadar kegiatan rutin untuk memilih Bupati Takalar pada periode berikutnya, akan tetapi sejatinya momentum Pemilukada seyogyanya digunakan pula sebagai ikhtiar bagi rakyat Takalar untuk menentukan pemimpinnya pada lima tahun ke depan. Jadi Takalar tidak hanya sekadar membutuhkan pejabat Bupati, akan tetapi juga membutuhkan seorang pemimpin.
Kenapa pemimpin? Karena ditangannyalah arah dan kemudi Takalar ini akan dibawa. Nasib rakyat akan ditentukan, apakah akan semakin baik, ataukah malah sebaliknya akan semakin mundur. Telah banyak Bupati yang telah memerintah, ada yang memerintah 5 tahun, 10 tahun dan ada juga yang kurang dari 5 tahun. Sayangnya rapor dari para pejabat tersebut tidak atau belum pernah dipublikasikan secara luas di masayarakat sebagai bentuk pertanggungjawaban moral kepada rakyat yang dipimpinnya. Apa sesungguhnya yang dia telah lakukan selama menjadi pejabat.
Kabupaten Takalar adalah salah satu kabupaten yang dihuni oleh masyarakat yang beretnik Makassar sehingga ini juga menjadikan Takalar sebagai wilayah inti dalam pelaksanaan adat istiadat dan kebudayaan Makassar. Namun kesan itu semakin hari, semakin hilang karena terlindas oleh zaman yang disebut dengan modernisasi. Walaupun modernisasi ini telah meluluh lantakkan sendi – sendi kehidupan masyarakat yang sejatinya mempunyai juga sebuah tatanan kehidupan yang telah dilalui selama berabad – abad, yang menjadikan kearifan – kearifan local sebagai pondasinya.
Di zaman Kerajaan Gowa, wilayah inipun merupakan salah satu wilayah penyangga utama kekuatan Kerajaan Gowa dalam menghadapi invasi dari VOC. Bagaimana tidak, di wilayah ini setidaknya ada 3 kerajaan besar yang pernah eksis antara lain Kerajaan (Karaeng) Galesong, Kerajaan (Karaeng) Sanrobone dan Kerajaan (Karaeng) Polong Bangkeng. Ketiga kerajaan ini bahu membahu dengan persatuan yang sangat kuat, telah membuktikan bahwa mereka telah berbuat sesuatu yang sangat besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia di masa depan. Jika potret di masa lalu ini digunakan pada kondisi kekinian, maka seyogyanya Kabupaten Takalar tidak henti – hentinya mencetak prestasi yang membanggakan, terutama dalam hal kesejahteraan rakyat. Kabupaten Takalar mewarisi kebesaran dari 3 kerajaan sekaligus untuk mencapai hal tersebut.
Adalah I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang, Mangkubumi Kerajaan Gowa telah memberikan pesan luhur kepada para pemimpin, baik pemimpin di zamannya maupun para pemimpin di masa sekarang, agar para pemimpin dapat menjaga amanah yang diberikan kepadanya oleh rakyatnya. Pesan – pesan tersebut antara lain berbunyi : Lima passala’ kapanrakanna se’rea kalompoang iyami antu : (1) punna tenami na ero’ nipakainga’ karaeng ma’gauka, (2) punna angnganremo soso’ pabicarayya, (3) punna majai gau’ lompo ri pa’rasanganga, (4) punna tenami tumangngasseng ri lalang pa’rasanganga, (5) punna tenamo nakamaseangi atanna karaeng ma’gauka. Terjemahannya adalah sebagai berikut : Ada lima hal yang menyebabkan mundurnya sebuah pemerintahan yaitu (1) bila pemimpin tidak mau menerima nasehat dan masukan, (2) bila para pejabat pemerintahan telah memakan suap dan sogok, (3) bila terlalu banyak peristiwa besar dalam wilayah pemerintahan, (4) bila sudah tidak ada cerdik pandai dalam negeri dan (5) bila pemimpin yang sedang berkuasa, tidak lagi menyanyangi rakyatnya.
Pesan ini begitu syarat akan makna moral bahwa betapa penting seorang pemimpin menjunjung tinggi nilai – nilai moral dalam menjalankan pemerintahnnya. Bahwa jika pemimpin telah menafikan nilai – nilai moral, baik yang berasal dari agama maupun dari budayanya, maka tunggulah saat – saat kejatuhan dari pemimpin tersebut. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah  misalnya kejatuhan rezim orde baru pada 1998, kejatuhan rezim Ben Ali di Tunisia pada 2010, kejatuhan rezim Husni Mubarak di Mesir pada 2010. Kondisi inipun berlaku untuk pemimpin – pemimpin di daerah termasuk di Takalar, jika tidak mengindahkan etika moral kepemimpinan dalam menjalankan roda pemerintahannya.   
Walaupun pesan ini diucapkan oleh Karaeng Pattingaloang sekitar 4 abad yang lalu, namun kelihatannya masih sangat relefan dengan kondisi saat ini. Apalagi Kabupaten Takalar yang memang merupakan wilayah inti dari Kerajaan Gowa di masa lalu. Karena itu seyogyanyalah para pemimpin yang ada di Takalar saat ini, menjadikan pesan moral ini sebagai ‘pakem’ dalam menjalankan roda pemerintahannya, agar apa yang dicita – citakan melalui ikhtiar kepemimpinan dapat tercapai dengan baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa kejatuhan Kerajaan Gowa pada masa itu, salah satunya juga disebabkan oleh banyaknya pemimpin (karaeng) yang tidak mengindahkan peringatan dari Karaeng Pattingaloang tersebut, disamping tekanan dari VOC dan sekutu – sekutunya.
Walaupun zaman telah berobah, namun akar budaya dari etnik Makassar tetap seperti sedia kala. Suku bangsa ini belum pernah berganti identitas, budaya dan adat istiadat, apalagi nilai – nilai luhur. Karena itu diharapkan para pemimpin yang ada saat ini, agar kembali memaknai pesan – pesan dari para pemimpin terdahulu karena disitulah bersemainya nilai – nilai luhur dan moral yang tinggi bagi seorang  pemimpin untuk ditauladani oleh komunitas yang dipimpinnnya. Tak ada masyarakat (kaum) yang mengalami kemajuan kalau bukan kaum itu sendiri yang melakukannya. Artinya sesungguhnya potensi yang akan didayagunakan untuk tercapainya kemajuan dari suatu masyarakat itu, sudah tersedia di dalam masyarakat itu sendiri sebagai potensi dasar. Bisa melalui kearifan – kearifan local yang disemai dalam lingkungan kehidupan sehari – hari seperti budaya, adat istiadat, system kemasyarakatan dan lain – lain.   
Untuk menyemangati para pemimpin agar tetap gigih dalam memperjuangkan apa yang dicita – citakannya (visinya), maka oleh Karaeng Galesong (I Manindori Daeng Tojeng) pun telah memberikan pesan kepada para laskar yang mengiktuinya berjuang melawan VOC di Jawa Timur dengan pesannya yang berbunyi : Jarreki tannang gulinnu, nani to’do’ puli minasayya (Bulatkan niat dan tekad, untuk berjuang mencapai tujuan/visi). Jika saja para pemimpin, menjadikan semua ini sebagai tekad dan acuan dalam memimpin rakyatnya, maka kesejahteraan rakyat sebagaimana yang dicita – citakan dalam UUD 1945, bukanlah merupakan suatu kemustahilan. Karena potensi yang dibutuhkan oleh pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan di hadapan rakyatnya sangatlah melimpah ruah adanya. Misalnya ketersediaan sumber daya alam yang begitu bervariasi, ada laut, persawahan, perkebunan, hutan dan gunung – gunung, ada sumber daya manusia yang mudah didapatkan, kapan saja pemimpin membutuhkannya. Bahkan saat ini dimana – mana bertebaran Perguruan Tinggi yang siap mensuplai kebutuhan sumber daya manusia, seperti apapun kualifikasi yang dibutuhkan, ada sumber daya social yang ditopang oleh peradaban yang mengedepankan nilai – nilai kemanusiaan sebagai nilai utama (sipakatau, sipala’biri dan sikatutui) yang telah dipraktekkan turun temurun, ada sumber daya ekonomi yang tak lagi mengenal batas – batas wilayah administrative negara, bahkan garam dan ikan dari luar negeripun, dapat ditemukan di pasar – pasar tradisional di Indonesia, kenapa tidak misalnya suatu saat nanti garam dan ikan segar dari Takalar dapat pula dijumpai di pasar – pasar Negara lain, serta sumber daya teknologi dan informasi yang dapat digunakan sesuai kebutuhan. Termasuk jika ingin digunakan dalam rangka kemudahan pelayanan kepada rakyat dan berinteraksi langsung antara pemimpin dengan rakyatnya. 
Dengan penggambaran tersebut di atas, sungguh – sungguh tidak ada alasan bagi pemimpin untuk tidak dapat mewujudkan kesejahteraan di hadapan rakyatnya sebagaimana janji mereka pada saat melamar untuk menjadi pemimpin, baik pemimpin di legislative (DPRD) maupun pemimpin di pemerintahan (Bupati).
Oleh karena itu melalui ikhtiar Pemilihan Kepala Daerah (Bupati) Takalar periode 2012 – 2017, dapat dijadikan oleh rakyat Takalar sebagai momentum besar dan titik balik bagi kemajuan Takalar ke depan. Karena itu, dengan moral yang tinggi, rakyat Takalar dapat menentukan siapa calon Bupati yang akan dipilihnya. Tidak hanya sekadar memilih Bupati Takalar, akan tetapi sekaligus memilih Pemimpin Takalar untuk lima tahun ke depan.
Dan kepada para calon Bupati Takalar yang akan bertarung dalam pemilihan Bupati Takalar periode 2012 – 2017, secara moral pula dihimbau agar tidak hanya sekadar ingin memenangkan pemilihan  Bupati, akan tetapi sejatinya adalah sekaligus menjadi Pemimpin bagi rakyat yang dipimpinnya, menjadi Pemimpin Takalar yang akan membawa perobahan ke arah yang lebih baik dengan melakukan program – program kerja yang betul – betul menjawab kebutuhan dan keberpihakan kepada masyarakat. Jika hanya ingin dikenang sebagai penjabat Bupati Takalar 2012 – 2017 maka lebih baik urungkanlah niatnya untuk bertarung di Pemilukada ini, karena hanya akan menjadi beban sejarah di masa depan. Dan bahkan malah memperlambat terwujudnya kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama berdirinya NKRI yang kita cintai ini. Namun jika berikhtiar untuk ingin menjadi Pemimpin Sejati, pemimpin yang dicintai rakyatnya, pemimpin yang akan terus dibicarakan di masa depan, sebagaimana Rasululullah Muhammad SAW dan Khulafaurrasyidin telah contohkan,  maka wakafkanlah jiwa dan raga serta hidupnya untuk mengabdikan diri sebagai pemimpin dan sekaligus Bupati Takalar yang membawa harapan besar bagi rakyat Takalar, sambil berkata pula kepada jajarannya di pemerintahan : Pakajarreki ta’galatta mange ri Karaeng Allah Ta’ala, nani to’do’puli kontu tojenga. Akhirnya dari jauh di bumi Cendana NTT, saya mengucapkan Dirgahayu Takalar ke 52, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesejahteraan kepada Rakyat Takalar dan para pemimpin diberikan keteguhan hati untuk bekerja sekeras – kerasnya demi kemajuan butta pa’rappunganta……
Kupang, 3 Pebruari 2012

Syamsu Salewangang Daeng Gajang

Kamis, 01 Desember 2011

Appare – pare, sumber pangan yang hilang di rumah sendiri


Suku Makassar yang mendiami jazirah selatan Sulawesi memiliki budaya yang adi luhung yang telah diwariskan secara turun temurun. Dari spirit budayanya inilah yang membuat orang – orang Makassar mempunyai jiwa dan semangat serta karakter yang tidak mengenal lelah untuk terus berjuang pada semua bidang kehidupan yang mengiringi nafas kehidupan sehari –hari dari zaman dahulu kala sampai saat ini. Keteguhan hati yang pantang menyerah itu masih dapat ditemukan jejaknya kini sebagaimana yang mereka torehkan pada masa - masa penjajahan dan masa kemerdekaan serta masa – masa mengisi  kemerdekaan ini dengan berbagai ragam karya pembangunan. Ibarat kata, Orang Makassar akan terus berjuang tanpa koma.

Saat ini mereka sedang berjuang melawan keterbelakangan hidup dalam segala bidang diantaranya ilmu pengetahuan, social, budaya, politk, ekonomi dan lain – lain. Walaupun suku bangsa ini (Makassar) pernah menjadi symbol kejayaan dan kemajuan bangsa – bangsa di wilayah timur Nusantara (Indonesia) pada beberapa abad lalu, terutama pada zaman Kerajaan Gowa berada pada masa keemasannya,  namun tidak berarti bahwa saat ini kehidupan social ekonomi, budaya dan politik masyarakat Makassar dengan sendirinya tetap stabil dan meningkat. Akan tetapi disadari atau tidak disadari oleh orang Makassar sendiri bahwa sesungguhnya mereka sedang menghadapi sebuah kenyataan yang semakin hari semakin jauh dari nilai – nilai budaya Makassar yang mereka warisi dari nenek moyang mereka.

Ada banyak contoh – contoh nyata yang perlu direnungkan bersama diantaranya penegakan spirit siri na pacce yang semakin luntur dan bahkan cenderung terjadi pergeseran dan penyempitan makna. Padahal nilai – nilai siri na pace sesungguhnya adalah pengejawantahan dari system kehidupan social, budaya dan ekonomi sebagai acuan dalam membangun system kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bahkan nilai – nilai siri’ na pace ini juga sangat relevan dengan system dan nilai – nilai yang diajarkan oleh agama Islam sebagai agama utama yang dianut oleh Orang Makassar.

Amat jarang lagi ditemukan praktek saling asuh, saling asih dan saling asah sebagai system sosial kemasyarakatan yang menjadi spirit utama dalam kehidupan sehari – hari sebagaimana ungkapan…. punna parallu ku koccikangki karro’- karrokku punna iapa la a’jari pa’balle ri katte (walaupun ini sudah tidak ada duanya, saya akan berikan kepada anda, jika hal ini bisa membantu)… spirit seperti ini nampaknya sudah terkubur dengan tenang dari landasan nilai dan sikap kita dalam bertindak. Justeru kecenderungan yang marak terjadi saat ini adalah siapa yang kuat (kuasa) dan siapa yang punya modal kuat (harta), maka dialah yang akan mendapatkan kekuasaan, bahkan kekuasaan itu nyaris tanpa batas. Dan celakanya kekuasaan tersebut cenderung pula disalahgunakan untuk semakin menancapkan kekuasaan yang telah direngkuhnya. Tidak mempunyai korelasi yang kuat antara kekuasaan yang dipegangnya dengan upaya mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Begitulah fenomena kehidupan social budaya Suku Makassar kini.

Adalah Appare – pare yang merupakan sebuah praktek budaya adi luhung dari suku Makassar yang telah punah ditelan zaman. Padahal tujuan dari appare – pare ini begitu mulia dan agung yaitu memberikan perlindungan terhadap orang miskin dari kelaparan. Appare – pare adalah sebuah mekanisme yang disepakati dan telah dipraktekkan sejak zaman nenek moyang kita dahulu, dimana masyarakat yang berpunya memberikan akses bagi keluarga miskin terhadap sumber – sumber pangan utama yang dimiliki antara lain padi, jagung, kacang – kacangan dan bahkan hasil – hasil tanaman perkebunan seperti kelapa, mangga dan lain – lain. Appare – pare ini dilakukan oleh para keluarga miskin di kampong – kampong sesaat setelah panen raya /besar (akkatto lompo) dilakukan oleh para pemilik sawah. Para pemilik sawah tidak keberatan, jika pada saat panen raya /besar (akkatto lompo), masih terdapat bulir – bulir padi yang tersisa karena secara sadar bahwa nanti akan ada orang lain (miskin) yang akan melakukan appare – pare atau sering disebut dengan akkatto ca’di.

Generasi yang lahir di atas tahun 1980an pasti akan bertanya : apakah itu appare – pare? Maka dengan bijak, kita para pendahulu mereka, mesti dengan sabar menjelaskan bahwa appare – pare adalah sebuah aktifitas panen padi, jagung dan sumber-sumber pangan lainnya yang dilakukan oleh keluarga – keluarga yang tidak punya lahan sawah setelah panen besar (akkatto lompo) telah dilakukan oleh para pemilik sawah/lahan. Praktek seperti ini tidak akan dapat ditemukan lagi dalam kekinian.

Namun akibat dari gerakan lappo ase yang digiatkan oleh pemerintah pada awal 1980an, maka pada saat itu pula praktek appare – pare ini mulai hilang dan akhirnya tidak dikenal lagi oleh generasi sekarang. Padahal, mekanisme ini telah menjadi kearifan local bagi masyarakat Makassar dalam mempertahankan hidup dari kekurangan pangan khusunya bagi keluarga yang tidak berpunya. Atau dapat dikatakan bahwa appare – pare ini adalah sebuah copying strategi untuk tetap dapat survive. Sebuah strategi mempertahankan hidup yang disiapkan oleh budaya.

Lalu timbul lagi pertanyaan di benak para generasi muda, lalu mengapa musnah? Karena setelah gerakan lappo ase digalakkan, maka alat-alat produksi terutama alat yang digunakan pada saat panen padi juga berangsur – angusr diganti karena cara yang digunakan pada saat panenpun juga turut terganti dengan cara-cara baru yang diperkenalkan oleh lappo’ ase ini, yairu dari system petik bulir menjadi system potong batang. Tujuannya agar panen bisa lebih efisien dari segi waktu dan hasil panen bisa lebih optimal. Hal ini pula mengakibatkan terjadinya pergantian alat panen dari ani-ani (pakkatto) menjadi sabit dan clurit.

Tentu ada keuntungan – keuntungan yang didapat oleh para petani terutama para pemilik sawah/lahan dimana hasil panennya meningkat berlipat – lipat dan sangat mudah untuk diolah selanjutnya karena sudah dalam bentuk gabah dan pengangkutannyapun dari sawah ke rumah akan sangat mudah karena gabah-gabah tersebut sudah diisi dalam karung.

Namun tanpa disadari, ada pengorbanan (social cost) yang tidak kalah pentingnya yaitu memutus akses para keluarga miskin di kampung-kampung  terhadap sumber-sumber pangan yang justeru ini adalah merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu setiap masa panen tiba. Dan pula secara budaya, mereka juga telah dilindungi dari kelaparan dan diberikan haknya atas pangan. Situasi ini sudah barang tentu telah membawa akibat turunan, namun mungkin belum sepenuhnya disadari oleh kita semua misalnya semakin tipisnya ikatan emosional dan hubungan social antar warga masyarakat, pola relasi antar masyarakat mengalami perubahan drastis dari relasi yang mengedepankan nilai – nilai social menjadi pola relasi antara buruh dan majikan. Dan mungkin juga mengakibatkan melunturnya solidaritas social masyarakat pada banyak arena-arena social karena pola relasi yang terbangun selama ini telah tergantikan menjadi relasi yang bersandarkan pada sesuatu yang bersifat transaksional (ekonomi capital).

Segalanya dikonversi dan diejawantahkan dalam bentuk nilai ekonomis (business oriented).  Ada uang ada barang yang menjelma menjadi ada upah jika ada kerja. Pada beberapa tipe masyarakat yang akar budayanya tidak seperti Bangsa Makassar dan bangsa-bangsa lainnya di Indonesia seperti Bangsa Eropa dan Amerika, mungkin pola seperti ini sangat cocok diterapkan, karena nilai-nilai seperti ini memang berasal dari akar budaya mereka.

Namun bagi bangsa-bangsa yang budayanya dibangun atas nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan, akan mengalami banyak kesulitan dalam menerapkan pola transaksional seperti yang dijelaskan di atas. Belajar dari kasus appare-pare ini, akhirnya timbul berbagai macam pertanyaan dalam benak, yang boleh jadi akan menghantui sepanjang hidup. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain : Apakah ini yang disebut dengan soft power expansion? Apakah ini yang dimaksud dengan power of noe liberalism? Apakah ini yang disebut pembunuhan karakter? Kearifan-kearifan local apa lagi yang akan hilang? Dan Apakah ini yang dimaksud dengan matinya perdaban? Saya pribadi sama sekali tidak paham akan hal ini……wallahu alam bissawab……   



Ditulis di Kupang, 17 Oktober 2009


Daeng Gajang

Rabu, 14 September 2011

Dana Pendidikan Anak Takalar


Tujuan
  1. Memastikan jaminan pendidikan yang cukup bagi anak – anak berprestasi dari keluarga miskin di Takalar
  2. Menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan berakhlakul kharimah bagi pembangunan Takalar di masa depan 
  3. Terciptanya kesadaran kritis dari berbagai pihak di Takalar untuk membebaskan Takalar dari keterpurukan social, budaya dan ekonomi
Penjelasan
Dana pendidikan untuk anak – anak Takalar ini adalah sebuah usaha social, nir laba serta independen yang diharapkan menjadi sebuah gerakan kolektip oleh masyarakat Takalar baik yang berdiam di Takalar maupun yang di luar Takalar dan atau pihak – pihak yang peduli dalam membangun sumber daya manusia Takalar di masa depan. Disamping itu juga dimaksudkan untuk membangun harmonisasi social diantara anggota masyarakat dan atau dengan pihak – pihak  lain yang selama ini cenderung semakin rapuh.

Indikasinya dapat ditemukan antara lain dengan semakin kurangnya saling kepedulian diantara anggota masyarakat dalam interaksi social dalam kehidupan sehari – hari dimana ada kecenderungan bahwa setiap orang akan sibuk memikirkan dirinya sendiri. Pola hubungan social yang selama ini telah terjalin baik di tengah masyarakat dan bahkan telah menjadi nilai – nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa ini (Makassar) telah mengalami pergeseran jauh dari akarnya. Maka diharapkan dengan adanya gerakan pengembangan dana pendidikan untuk anak – anak Takalar ini, akan menjadi benang merah yang akan menjalin kembali rasa solidaritas, ikatan emosional yang akhirnya berbuah kebersamaan dalam membangun sumber daya manusia melalui pendidikan yang pembiayaannya diusahakan bersama dalam sebuah badan pengelola yang disebut Badan Pengelola Dana Pendidikan Anak Takalar.

Gerakan ini didasari oleh minimnya SDM berkualitas yang berasal dari Takalar karena banyak diantara mereka yang tidak sempat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan  drop out dari pendidikan formal yang disebabkan oleh ketidakberdayaan orang tua baik secara social maupun ekonomi untuk memberikan pendidikan yang cukup terhadap  anak – anak mereka. Ketidakberdayaan secara social dimaksudkan antara lain kurangnya kesadaran orang tua, pengaruh lingkungan dan perkawinan dini, sedangkan ketidakberdayaan secara ekonomi antara lain kemiskinan dan ketidakmampuan memenuhi biaya – biaya yang harus ditanggung dalam kebijakan pendidikan.

Situasi seperti ini kalau dibiarkan berlarut – larut, akan mengakibatkan terjadinya stagnasi perkembangan peradaban dan loss generation bagi Takalar dan mungkin juga etnik Makassar (Kota Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba dan Selayar). Disadari atau tidak, sebenarnya gejala menuju kepada stagnasi peradaban dan loss generation telah terjadi. Indikasinya, dewasa ini kita sudah sangat kesulitan menemukan sosok – sosok cerdik pandai nan bijak dari kalangan etnik Makassar apalagi Takalar. Yang ada hanya politisi – politisi kelas local yang tentunya hanya sibuk memikirkan kelanggengan kekuasaan kelompok bukan tokoh – tokoh yang berpihak kepada kemuliaan peradaban dan harkat dan martabat kemanusiaan. Sesungguhnya apa yang coba digagas ini sangatlah relevan dengan tujuan ‘Millenium Development Goal’ yang salah satunya adalah Education for All..    

Mekanisme Pelaksanaan
Diawali dengan diskusi dan mengkritisi gagasan ini dengan pihak – pihak yang mempunyai kepedulian terhadap masa depan anak – anak Takalar yang tidak dapat akses kepelayanan pendidikan walaupun sebenarnya mempunyai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. Dari diskusi ini diharapkan terbangunlah sebuah komitmen dari pihak – pihak yang sepaham untuk sepakat melakukan sesuatu yang berarti bagi anak – anak khususnya Anak Takalar melalui program Dana Pendidikan Anak Takalar. Konsep ini terbuka dikritisi (ditambah atau dikurangi) untuk penyempurnaan dan seterusnya. Membangun komitmen dengan berbagai pihak dapat dilakukan melalui diskusi langsung bertatap muka maupun diskusi dengan menggunakan email atau web site Pemkab Takalar atau bahkan dalam sebuah lokakarya khusus agar sejak awal tujuan dari program ini dapat diketahui secara luas oleh masyarakat yang diharapkan pula dapat memberikan konstribusinya dalam mengembangkan program ke depan.

Dalam artian bahwa senantiasa disiapkan space untuk masyarakat agar dapat memberikan partisipasinya, sehingga mereka akan menjadi subyek sekaligus obyek dalam program. Setelah komitmen nyata telah diberikan oleh para pihak, maka dibentuklah sebuah badan independent yang akan menjadi pelaksana operasional. Namun sebelum badan ini dibentuk, disusun terlebih dahulu syarat – syarat seseorang dapat menjadi anggota badan pelaksana. Syarat – syarat tersebut sedapat mungkin melibatkan masyarakat dalam penyusunannya atau bahkan kalau dimungkinkan pengurus badan pengelola adalah orang – orang yang direkomendasikan oleh masyarakat luas karena keteladananya selama ini dalam sebuah rembug.

Setelah badan pengelola terbentuk,  pengurus (executive) akan menyusunan rencana kerja, tugas dan tanggungjawab dari masing – masing anggota. Setelah itu diberikanlah pelatihan – pelatihan yang relefan kepada pengurus yang bertujuan untuk meningkatkan skill dalam pengelolaan manajemen dari badan tersebut. Sebagai contoh pelatihan leadership, social marketing, analisa social, management organisasi dan lain – lain. Setelah pengelolanya sudah disiapkan, maka pengelola akan melakukan lokakarya dengan para pihak/masyarakat untuk menentukan kriteria anak – anak yang menjadi target group serta aturan main yang diperlukan seperti apakah dana tersebut bersifat hibah atau pinjaman. Kalau dipinjam bagaimana bentuk pengembaliannya apakah secara angsuran dengan bunga dst.

Begitu juga bagaimana merekrut calon donatur dan bagaimana menggalang konstribusi dari masyarakat luas termasuk bagaimana dengan badan hukum dari lembaga ini. Atau misalnya ada pemikiran lain untuk menanamkan modal yang ada pada investasi yang produktip dalam kurun waktu tertentu sehingga dana tersebut setiap saat akan berkembang terus menerus. Setiap keputusan – keputusan strategis yang akan diambil oleh pengelola diharuskan berkonsultasi sebelumnya dengan masyarakat. Sehingga terjadi transparansi dan akuntabilitas dari setiap keputusan yang diambil. Dan yang tak kalah pentingnya adalah terjadi proses pembelajaran di masyarakat yang akan membuat mereka mempunyai keterikatan emosional dan rasional terhadap lembaga ini.

Sumber Pendanaan
Untuk mengoperasionalkan program ini, tentunya dibutuhkan pendanaan yang mencukupi. Oleh karena itu upaya – upaya pendekatan terhadap seluruh pihak yang peduli terhadap pendidikan anak terus menerus dilakukan dengan menjelaskan kepada mereka baik individu, perusahaan bahkan pemerintah serta lembaga donor international tentang tujuan dari program ini dan memberikan jaminan penggunaan dana dengan tepat. Jaminan tersebut dapat berupa laporan keuangan secara terbuka yang setiap saat dapat di akses.

Sumber – sumber lain dapat diusahakan dari hasil pengembangan usaha – usaha kelompok yang sekian % keuntunganya dialokasikan untuk program ini. Bisa juga ditawarkan kepada perusahaan – perusahaan untuk menjadi donors, baik perusahaan yang berada di Takalar atau di sekitarnya yang mempunyai hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari – hari maupun perusahaan yang berada di luar yang mana perusahaan tersebut selama ini aktip melakukan kegiatan – kegiatan social sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibilty seperti Coca Cola, Djarun, Indofood dan sebagainya. Atau melalui bantuan pemerintah (pusat/kabupaten) untuk program pengentasan kemiskinan, subsisdi BBM dan lain – lain. Dan juga dengan melakukan promosi kepada individu – individu yang telah mempunyai reputasi di negeri ini. Mereka diajak untuk membangun masyarakatnya melalui program dana pendidikan untuk anak – anak miskin khususnya di Takalar. Akan tetapi akan lebih baik jika masyarakat juga dapat memberikan konstribusinya dalam bentuk iuran, sumbangan suka rela atau tabungan. Untuk menjamin penggunaan dana tepat sasaran, akan dilakukan audit oleh accounting public atau audit langsung oleh masyarakat.              

Badan Pengelola
Badan pengelola terdiri dari 5, 7 orang atau sesuai kebutuhan. Diantara mereka ada yang dipercayakan sebagai ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara serta anggota – anggota. Kepengurusannya dengan sistim periodisasi yang diputuskan dalam anggaran dasar dan anggran rumah tangga. Kriteria badan pengelola akan di konsultasikan dengan masayarakat akan tetapi kriteria umum dapat ditentukan sebelumnya seperti mempunyai track record yang baik di masyarakat, mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap anak – anak dan pendidikan, cakap dalam manajerial dan leadership dan seterusnya. Struktur badan pengelola agar memperhatikan keterwakilan unsure perempuan dan pluralitas. Terbebas dari nepotisme, kolusi dan korupsi serta intervensi dari kepentingan individu dan kelompok tertentu.

Target Group
Target group dari program ini secara umum adalah anak – anak yang berasal dari keluarga miskin (prioritas) agar mereka mendapatkan jaminan untuk tetap sekolah yang secara genetika dan bertempat tinggal di Takalar. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan terbuka pemikiran lain misalnya digunakan untuk pengembangan program pendidikan lainnya misalnya subsidi kepada sekolah – sekolah di desa atau ke pendidikan anak usia dini. Batasan mereka mendapatkan bantuan dana pendidikan akan disesuaikan dengan kemampuan lembaga serta memperhatikan aspirasi yang berkembang atau bahkan akan diputuskan dalam musyawarah anggota atau dengan masyarakat.

Diharapkan jika perkembangannya memperlihatkan performa yang baik, tidak menutup kemungkinan dilakukan perluasan cakupan target group misalnya lintas kabupaten atau untuk anak – anak etnik Makassar atau bahkan untuk anak – anak SulSel jika sumber daya telah memungkinkan. Adapun kriteria anak yang layak untuk mendapatkan bea siswa antara lain : (1) berasal dari keluarga miskin tapi mempunyai prestasi tinggi (2) anak yatim dan yatim piatu yang berprestasi (3) genetika Takalar diprioritaskan – dirumuskan kemudian (4) atau mahasiswa (S1, S2, S3) yang melakukan riset khusus tentang pembangunan Takalar atau etnik Makassar (5) dst………

Penutup
Gagasan ini dicoba untuk diwacanakan kepada berbagai pihak, siapa nyana disuatu saat akan ada pihak yang tertarik untuk menjalankannya sehingga akan banyak anak – anak yang tertolong dari ketidakpastian akan masa depan menjadi manusia – manusia yang berguna bagi kelangsungan hidup bangsa ini khususnya anak – anak Makassar. Ini hanyalah sekadar wacana atau ide yang setiap saat terbuka untuk dikritisi dan dikembangkan lebih jauh demi penyempurnaannya.



Ditulis di Rembang – Jawa Tengah, 28 Maret 2006

Syamsu Salewangang Daeng Gajang
Jalan Adipati Honggodjojo No. 26
Rembang - Jateng








 

Minggu, 14 Agustus 2011

Makna kemerdekaan bagi pemuda (i) Takalar

Tidak bisa dipungkiri bahwa bumi Takalar di masa perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, pernah menjadi basis para pejuang kemerdekaan di bawah panji – panji LAPPRIS (Laskar Perjuangan dan Perlawanan Rakyat Indonesia Sulawesi) yang di bawah pimpinan Ranggong Dg. Romo dan beberapa pemuda Takalar ketika itu. Ini adalah bukti bahwa sebenarnya Takalar merupakan asset yang tidak ternilai harganya di pangkuan ibu pertiwi. Tidak banyak kabupaten di Indonesia yang mempunyai pahlawan nasional sebanyak dua orang sekaligus yaitu Ranggong Dg. Romo dan Pajonga Dg. Ngalle Karaeng Polong Bangkeng selain Gowa yang juga mempunyai dua pahlawan nasional yaitu I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke XVI dan Syekh Yusuf Al – Makassari Tuanta Salamaka. Meminjam teori kemungkinan (probability), dengan menghitung besarnya jasa – jasa yang telah diberikan kepada republik,  seharusnya Takalar saat ini, sejatinya telah menjadi salah satu kabupaten terkemuka di republik ini. Setidaknya sama terkemukanya dalam hal koleksi pahlawan nasional.

Namun kenyataan berkata lain, kabupaten ini masih terseok di belakang dan bahkan jauh dari pencerminan masa lalunya. Kemiskinan dan pengangguran masih menjadi momok yang selalu menghantui masyarakatnya, bahkan boleh dibilang telah menjadi karib yang selalu melekat dalam keseharian kehidupan masyarakatnya. Padahal jika dilihat potensi yang dimiliki daerah ini, sebenarnya tidaklah kalah dengan daerah – daerah lain. Bahkan cenderung lebih lengkap karena Takalar mempunyai wilayah laut, kepulauan, pantai, pertambakan, lahan persawahan, perkebunan, hutan, pertambangan, sumber daya manusia, dan yang tidak kalah pentingnya adalah akses ke pusat perdagangan di Indonesia Timur yaitu Kota Makassar begitu dekat. Bahkan dari arah Galesong, Takalar langsung berbatasan dengan Kota makassar. Kesemua potensi yang dimiliki tersebut, jika dikelola dengan baik, maka tentu akan menjadi sumber pendapatan ekonomi yang produktif bagi rakyat Takalar, yang dengan sendirinya dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat sebagaimana yang diperjuangkan oleh para pahlawan nasional tersebut.

Namun itu semua masih bersifat perumpamaan (misalnya, apa bila, punna, barang dasi na dasi),   karena sampai saat ini kabupaten ini masih belum menorehkan kembali prestasi yang mencengangkan untuk kemajuan bangsa, sebagaimana telah dicapai oleh para pahlawan nasional tersebut.  Oleh karena itu, melalui refleksi kemerdekaan ini, marilah para pemuda Takalar dimanapun anda berada, buanglah rasa gengsi dan malas yang selalu menjadi penghalang besar untuk kalian menjadi maju. Saat ini kita punya musuh bersama yaitu ’kemiskinan dan pengangguran’. Kemiskinan dan pengangguran hanya bisa dilawan dengan sebuah tekad kerja keras dengan penuh kesungguhan (Tinuluppaki akkareso nakigappa minasanta). Tak peduli apapun profesi dan latar belakang anda semua.

Malu kita kepada para pejuang kemerdekaan itu, jika hanya melawan kemiskinan dan pengangguran saja kita tidak berdaya. Dan malu pula kita kepada generasi yang akan datang, sebab mereka akan mengatakan kepada kita semua bahwa melawan kemiskinan dan pengangguran saja tidak mampu, apalagi melawan penjajah yang harus mengorbankan jiwa dan raga. Padahal di dalam darah dan jiwa kita semua ini mengalir darah pahlawan, yang rela mengorbankan apapun yang dimiliki demi tercapainya suatu cita – cita mulia, demi tercapainya suatu kemerdekaan dan kebebasan dari kemiskinan dan keterbelakangan. 

Oleh karena itu, jika tidak ingin malu kepada generasi pendahulu dan generasi yang akan datang, maka saatnyalah untuk membuktikan kepada mereka. Bahwa kita bisa melawan kemiskinan dan pengangguran itu, demi memerdekakan rakyat Takalar secara hakiki. Jika ini dapat diwujudkan, maka tidak akan lama lagi, akan muncul pahlawan – pahlawan pengentasan kemiskinan dan pengangguran dari bumi Takalar. Bukti bahwa Takalar memang tempatnya para pahlawan dilahirkan. Why not?????????????????             


Kupang, 17 Agustus 2009

Daeng Gajang

Kamis, 14 Juli 2011

Mencari ide gila dari Takalar untuk masa depan Makassar sebagai kultur

(Sebuah renungan perjalanan sejarah Takalar untuk Sulawesi Selatan dan Indonesia)

”Tulisan ini adalah sebuah peneropongan terhadap sejarah yang terputus atas eksistensi orang – orang Makassar dalam memberikan kontribusi terhadap pembanguan daerah dan pembangunan bangsa dan negaranya ’Indonesia’. Mudah – mudahan bisa menjadi inspirasi bagi anak – anak muda Makassar (Takalar) untuk bergerak maju ke depan demi meraih kesejahteraan bersama bagi generasi mendatang”.
   
Suatu ketika saya dan beberapa teman dari Sulawesi Selatan menghadiri suatu loka karya di salah satu kota di Jawa. Seperti biasa pada setiap memulai kegiatan tentunya diawali dengan perkenalan para peserta. Pada sesi perkenalan tersebut, ada hal yang sedikit menggelitik sekaligus mengundang tanya dalam hati kecil saya yaitu ketika saya ditanya oleh teman – teman peserta yang lain mengenai asal daerah. Ketika saya mengatakan bahwa saya adalah Orang Makassar yang berasal dari Takalar, ternyata teman – teman memaknainya lain bahwa yang dimaksud dengan Orang Makassar itu adalah orang yang tinggal di Kota Makassar. Mereka beranggapan bahwa di Sulawesi Selatan itu hanya ada Suku Bugis dan Suku Toraja. Sedangkan masyarakat yang mendiami kawasan Kota Makassar dan sekitarnya adalah Suku Bugis Makassar. Yang ada adalah orang Makassar sebagai kota asal bukan orang Makassar sebagai suku (kultur).

Belajar dari pengalaman  tersebut di atas, semakin banyaklah daftar pertanyaan yang muncul kemudian. Pertanyaan – pertanyaan itu antara lain : Bagaimana awalnya Suku Makassar itu muncul? Siapa tokoh – tokoh yang pertama kali hidup pada masa – masa awal terbentuknya komunitas Suku Makassar? Bagaimana kebudayaan, adat istiadat dan system nilai yang dianut dikembangkan? Bagaimana struktur bahasa, langgem, dialek dan kearifan – kearifan berkembang? Bagaimana mengekspose eksistensi Makassar sebagai sebuah suku (cultural) bangsa selama ini? Mengapa Makassar sebagai suku bangsa identik dengan perangai keras? Mengapa Suku Makassar sekarang identik dengan Suku Bugis Makassar? Dan masih banyak lagi …………………… Sebenarnya pertanyaan – pertanyaan tersebut muncul dikarenakan oleh salah satunya adalah adanya kerinduan akan eksistensi kolektip dari Makassar sebagai salah satu suku bangsa yang menyokong dan sekaligus sebagai akar dari peradaban bangsa dewasa ini dan di masa depan yang bernama Tatanan Indonesia Baru. Dan juga adanya keprihatinan terhadap kelangsungan kehidupan Makassar sebagai sebuah komunitas di masa depan. Mungkin kalau tidak ada kesadaran kritis secara kolektip dari generasi sekarang, maka fenomena yang saya sebutkan di atas, akan menjadi pengiring berakhirnya sebuah episode peradaban (kehidupan) dari sebuah suku bangsa yang bernama Suku Makassar.

 Dengan demikian Makasar di masa depan hanya akan dikenal sebagai sebuah wilayah territorial (Kota Makassar), bukan pada wujud sebuah komunitas peradaban (suku). Makassar sebagai sebuah peradaban (cultural) hanya akan ditemui dalam bentuk manuskrip dan mungkin biorama ataupun situs - situs. Manuskrip itu bisa berupa huruf – huruf lontara’, kumpulan kata – kata berbahasa Makassar yang hanya akan menjadi pekerjaan para ilmuwan untuk obyek penelitian mereka yang hasilnya kemudian dipresentasikan kepada cucu – cucu kita yang nenek moyangnya adalah Orang Makassar (suku). Demikianlah sekelumit, permenungan subyektipitas saya sebagai orang yang selalu terganggu dengan misteri pertanyaan – pertanyaan tersebut di atas. Selanjutnya coba kita bumikan kekhawatiran –kekhawatiran tersebut dalam konteks kekinian dan masa depan untuk membangkitkan kembali spirit perjuangan dalam penyiapan sumber daya manusia berkualitas yang akan menjadi penopang tatanan dunia baru di abad modern ini yang tentunya tidak lupa belajar dari pengalaman di masa lalu.

Adapun rekaman perjalanan sejarah kehidupan orang – orang Makassar khusunya yang berasal dari Takalar secara subyektip dapat disimak sebagai berikut. Tidak banyak kejadian istimewa yang diukir oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Takalar dalam kurung waktu 50 - 60 tahun terakhir. Padahal, tidak bisa dipungkiri bahwa rentang waktu sebelumnya yakni tahun 1940an, Takalar dikenal sebagai basis perjuangan rakyat Sulawesi melawan penjajah Belanda yang dipimpin oleh putera – putera Takalar antara lain Ranggong Daeng Romo, Makkaraeng Daeng Manjarungi, Pajonga Daeng Ngalle, Makkatang Daeng Sibali, Mappa Daeng Temba dan tokoh – tokoh dari Galesong yang pernah meraih puncak prestasi pada generasi berikutnya di masa lalu, sebut saja Hamzah Tuppu, H. A. Ajaib Daeng Sibali dan lain – lain. Bahkan seorang pejuang bangsa sekaliber Wolter Monginsidi dan Emmy Saelan pun masih dibawah komando dari putera – putera Takalar tersebut di atas.

Namun sangat disayangkan, perjuangan yang telah dirintis oleh beliau – beliau itu tidak tersemaikan dengan baik oleh generasi Takalar berikutnya sehingga proses kaderisasi dapat dikatakan mandek atau jalan ditempat dan bahkan terputus sama sekali. Ironisnya lagi karena tidak satupun dari para pemimpin Takalar pada waktu itu baik pemimpin formal (pemerintahan) maupun pemimpin non formal (tokoh masyarakat) yang berpikiran bagaimana menyiapkan generasi Takalar di masa depan secara berkesinambungan sehingga akibatnya adalah kita sangat kesulitan menemukan tokoh – tokoh bangsa (figur pemimpin dan negarawan) yang berkiprah baik di tingkat nasional maupun di tingkat regional dewasa ini.

Padahal di zaman itu bisa saja para pemuka masyarakat tersebut dengan mudah mengirim putera – puteri mereka menuntut ilmu dan melanjutkan pendidikan di kota – kota besar di Indonesia misalnya Jakarta, Yogyakarta, Bandung atau minimal Makassar. Ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para pemimpin pemerintahan dan bangsawan serta para pedagang kaya di daerah lain misalnya di Bone, Soppeng, Wajo dan daerah – daerah lain di Sulawesi Selatan. Mereka seolah – olah berlomba – lomba atau bahkan bersaing (prestise) mengirim putera – puteri mereka menuntut pendidikan setinggi – tingginya di kota –kota utama pendidikan di Indonesia. Pilihan mengirim putera – puteri mereka menuntut ilmu di kota – kota besar tersebut kemudian akhirnya  merubah perjalanan sejarah Sulawesi Selatan pada kurung waktu 50 tahun terakhir.

Padahal kita semua tahu bahwa masa – masa sebelum itu, perjalanan sejarah Sulawesi Selatan baik dari segi keintelektualan maupun dari segi kepemimpinan perjuangan melawan penjajah, orang – orang Makassar termasuk Takalar sangat memegang peranan penting. Resiko dari pilihan tidak menyiapkan generasi penerus tersebut, hari ini harus dirasakan dan kalau boleh dikatakan dibayar mahal oleh generasi sekarang, dimana kita semua harus rela dan memang itulah pilihan terbaik untuk menjadi penonton di kampung halaman sendiri. Bagaimana kita orang Makassar (Kota Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar, sebagian Bulukumba) menjadi penonton di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Bahkan Suku Makassar ini termasuk salah satu suku yang termasuk kategori termiskin di negeri ini atau tingkat kesejahteraanya termasuk rendah dibandingkan dengan suku – suku lain seperti Jawa, Sunda, Bugis, Batak, Minang, Betawi, Bali, Madura, Aceh, Melayu dan Banjar 

Pertanyaan – pertanyaan berikut dapat menjadi hipotesa sejauh mana sebenarnya keterpurukan itu telah terjadi. Sebut saja misalnya berapa orang Takalar yang menjadi guru besar atau S3. Katanya sih kalau S2 banyak, bahkan S3 pun ada  yaitu dari kalangan pejabat pemerintah kabupaten (birokrat), tapi jangan ditanyakan bagaimana kualitas dan cara memperolehnya.  Berapa banyak tentara atau polisi yang mencapai pangkat jenderal (bintang 1 sampai 4) atau paling tidak kolonel? Paling – paling hanya Kopjend dan sersan mannyere’ (ha, ha, ha…), kalaupun ada yang  bernasib baik satu dua orang yaa akhirnya mentok di pamen (letkol kebawah). Berapa yang menjadi pemimpin birokrat di departemen? Misalnya yang duduk di eselon I dan II?. Rasa – rasanya sampai dengan hari ini tak satupun putera Takalar yang sampai di posisi ini apalagi menteri. Berapa banyak yang menduduki posisi strategis di birokrasi pemerintahan propinsi? Jawabannya adalah adakah Putera Takalar yang berkarir dengan gemilang di Pemprop? Berapa banyak  seniman atau budayawan yang berkarya untuk kebesaran kebudayaannya? Jawabnya adalah adakah Putera Takalar yang berkesenian  dan budayawan? Berapa banyak intelektual yang punya karya tulis yang berasal dari Takalar? Jawabnya adalah adakah Putera Takalar yang berprofesi sebagai penulis? Ataukah berapa banyak orang Takalar yang berkiprah di dunia professional lainnya seperti pengacara, konsultan teknik, arsitek, dokter atau pebisnis? Jawabnya adalah sulit juga menemukannya.

 Pertanyaan – pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menggugat para pemimpin Takalar di masa lalu, akan tetapi hanya menyayangkan mengapa kegemilangan yang telah ditorehkan dengan tinta emas dalam lembaran sejarah negeri ini tidak dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya? Sebab orang Takalar waktu itu  tentu punya catatan sejarah tersendiri yang positip yang bisa menjadi kredit point yang mendukung mereka memasuki lembaga – lembaga pendidikan tinggi ternama saat itu misalnya lembaga pendidikan tentara atau polisi dan umum seperti ITB, UGM dan lain – lain karena tidak diragukan lagi jiwa patriotismenya terhadap bangsa dan negara ini.

Seiring dengan perjalanan waktu, semakin tenggelamlah nama Takalar dalam percaturan kehidupan masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan, baik dari aspek social, budaya, ekonomi maupun politik. Berangkat dari kenyataan inilah, maka timbullah sebuah pemikiran/gagasan yang bertujuan untuk menciptakan blue print/grand scenario tentang penyiapan generasi muda Takalar yang akan mengharumkan kembali nama Takalar dalam percaturan kehidupan di negeri ini dalam segala bidang pembangunan yang meliputi social, budaya, ekonomi dan politik. Inilah yang kemudian saya harapkan menjadi wacana dan diskusi produktip yang akhirnya menjadi karya nyata kita selaku anak bangsa yang kebetulan dilahirkan dan dibesarkan di Takalar dalam membangun bangsa dan negara. Dus… waktu berjalan terus mengiringi berputarnya roda kehidupan ini. Jika bukan kita lalu siapa lagi, dan jika bukan sekarang lalu kapan lagi. Jangan sampai kita semua yang hidup sekarang ini, akan mendapat sumpah serapah dari generasi yang akan datang.

Saatnya mengkaji ulang filosophi hidup yang dipegang oleh masyarakat Takalar (Makassar) yang malah memberikan stigma negative terhadap pengembangan potensi sumber daya manusia Takalar misalnya ‘ejatompiseng nadoang’, kalau prinsip ini tidak direvitalisasi kehal – hal yang positip maka orang Takalar akan sungguh – sungguh menjadi doang, bukankah  doang itu tidak punya otak??  Kualleangngangi tallanga natoaliya, sebaiknya diarahkan kepada suatu nilai bahwa dalam melakukan sebuah pekerjaan haruslah dipersiapkan/direncanakan dengan baik dan atas perhitungan yang matang sebab zaman sekarang semuanya haruslah dengan rencana yang matang. Kualleangngangi mate ceraka namate cipuruka, dijadikan sebagai motivasi untuk bekerja keras dalam memerangi kemiskinan,  dan masih banyak lagi filosophi – filosophi hidup yang diwariskan oleh nenek moyang kita yang seyogyanya disesuaikan dengan tuntutan zaman yang serba edan ini.

Saudarakau semua …… marilah kita secara bijak dengan pikiran yang jernih mencoba memetakan situasi yang terjadi sekarang pada segala aspek kehidupan. Jawabanya ada di benak kita masing – masing and the next step battu ri kattengaseng. Tulisan ini kedengarannya agak propokatip karena menggugah hal – hal yang boleh jadi sensitip. Tapi seperti orang di Kota Makassar sering bilang, maumi diapa namemang begitu tawwa keadaanta sekarang. Disaat orang Makassar dengan gagah berani memukul dadanya sambil berujar “anne riolo”, orang lain terdiam dengan logika sehat sambil menyusun rencana gemilang dan taktis yang berbuah kepada keberhasilan memenangkan hegemoni masa depan pada semua lini kehidupan seperti intelektual, ekonomi, social, budaya, birokrasi pemerintahan dan lain – lain.

Celakanya, diamnya orang lain itu diterjemahkan bahwa dia takut dan tidak berani berhadapan dengan saya sebagai orang Makassar karena orang Makassar dikenal sebagai pemberani dan pantang mundur jika sudah terlanjur napaenteng tanrasulana sekalipun nyawa taruhannya. Contoh lain, beberapa teman saya di Jakarta pernah berujar, jika anda ingin selamat dan aman berjalan – jalan di Jakarta maka sebisa mungkin tampilkanlah symbol yang bisa menunjukkan bahwa anda adalah orang Makassar misalnya dengan menggunakan baju atau apapun yang bertuliskan Makassar, logat distel kayak Makassar atau bahkan ucapkanlah kata – kata singkat dalam bahasa Makassar. Pastimaki aman itu berjalan – jalan di pusat – pusat keramaian di Jakarta………

Saya teringat pesan dari seorang teman, beliau bilang begini, anda dan siapapun tidak akan mampu memusnahkan perjalanan kehidupan dari sebuah suku bangsa jika anda melakukannya dengan kekerasan (pembunuhan massal) terkecuali jika anda melakukannya dengan menjauhkan mereka dari kebudayaannya. Lalu beliau memberikan contoh bagaimana suku bangsa Aborigin di Australia sana tetap dapat survive ditengah hegemoni bangsa kulit putih. Dan masih banyak lagi contoh – contoh lain dari belahan dunia ini. Pesan ini sangat cocok dengan situasinya dengan Suku Makassar dimana eksistensinya secara lambat namun pasti akan mengalami kemunduran dan akhirnya punah ditelan zaman karena akibat dari ulah orang – orang Makassar sendiri yang sudah memisahkan dirinya dari akarnya sendiri yaitu pekerja keras, pemberani, pantang menyerah, solidaritas dan kepekaan social yang tinggi dan lain – lain.

Sekarang kita selaku generasi Takalar yang kebetulan ditakdirkan oleh Allah SWT hidup di zaman ini berada di persimpangan jalan. Apakah mau bangkit untuk kemaslahatan bersama atau kita masa bodoh saja dengan keadaan yang sudah seperti ini. Tiada daya dan upayaku ya Allah, hanyalah  kepada-MU kami menggantungkan pengharapanku. Yang pasti jika kita bekerja keras untuk membesarkan dan memajukan Takalar berarti pulalah bahwa kita telah menorehkan karya besar terhadap kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai ini (Indonesia Raya).         



Ditulis di Rembang – Jawa Tengah
17 Mei 2006



Daeng Gajang