Minggu, 04 Maret 2012

Cerita dari Bangladesh

Kunjungan ke Bangladesh yang berlangsung dari 21 – 27 Nopember 2008 sungguh merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Kegiatan di Bangladesh adalah dalam rangka mengikuti global meeting the Food and Nutrition Security Program kerja sama dengan Plan Belanda. Peserta dari meeting ini antara lain dari Asia ( Bangladesh dan Indonesia), Afrika (Benin, Ghana, Ethopia), Amerika Latin (Peru, dan Nigaragua). Meeting berlangsung di Hotel Blossoom Asia Pacific yang terletak
di Biadara Road
. Pada meeting ini juga diagendakan kunjungan lapangan di salah satu Program Unit di Plan Bangladesh yaitu PU Sreepur yang berlangsung pada 24 Nopember 2008. Berikut oleh – olehnya :


Pada 21 Nopember 2008 meninggalkan Jakarta dengan menggunakan SQ Air pada pukul 14.00 wib melalui Singapura dan selanjutnya ke Dhaka pada malam hari sekitar pukul 20.00 waktu Singapura dan sampai di Dhaka pada pukul 21.35 waktu Dhaka (2 jam lebih lambat dari wita). Setelah menyelesaikan pemeriksaan passport oleh petugas imigrasi di Bandar udara international Ziaurrahman Dhaka, selanjutnya melakukan penukaran uang dari dollar ke taka. 1 $ sama dengan 68 taka. Kami telah ditunggu oleh jemputan dari hotel tempat kami menginap yaitu Hotel Blossom Asia Pacific. Hotel ini sekelas bintang 3 namun fasilitasnya lebih sederhana dibandingkan hotel sekelas di Indonesia. Rombongan dari Plan Indonesia terdiri dari 6 orang yaitu saya sendiri Syamsu Salewangang (AM NT Area), Wahdini Hakim (Health Specialist CO), Agusman Rizal (FNS Coordinator NT), Duma Octavia (Health Coordinator NT Area), Sabaruddin (PUM PU Lembata) dan Nurhasanah (FNS Facilitator PU Dompu).

Pada 22 Nopember 2008, kami menghabiskan waktu seharian di ruang meeting hotel untuk menyelesaikan bahan – bahan presentasi yang belum rampung sejak dari Indonesia (Dompu dan Jakarta). Malam harinya, kami makan malam di Restoran Golden Rice di sekitar pusat kota Dhaka. Ke restoran ini dengan menggunakan jasa rental car yang disediakan oleh hotel. Biayanya sekitar 500 taka perjam. Setelah makan malam, kami jalan – jalan di pusat perbelanjaan Gulshan II. Katanya sih disinilah pusat kota Dhaka seperti bundaran HI di Jakarta. Namun kondisinya sangat semrawut dan jorok. Sebenarnya lebih layak dibilang pusat pasar grosir tradisional karena sangat jauh dari penataan sebagai mana pusat – pusat kota besar lainnya di dunia.

Pada 23 Nopember 2008, pembukaan kegiatan dilakukan di salah satu hotel di Dhaka yang lokasinya di sekitar Gulshan I yaitu Hotel Lake. Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan dari kementrian kesehatan dan pertanian Bangladesh yang terkait langsung dengan program Food and Nutrition Security. Juga dihadiri oleh perwakilan kedutaan besar Belanda di Dhaka. Setelah pembukaan, sesi presentasi dari setiap negara peserta dilakukan dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Yang menarik adalah peserta dari kawasan Amerika Latin yang terdiri dari Peru dan Nicaragua tidak bisa berbahasa Inggeris, jadi mereka harus selalu didampingi oleh translator bahasa Spanyol. Asyik juga nih berdiskusi dengan berbagai macam bahasa yaitu English, Bangladesh, Spanyol, France dan Indonesia.  

Pada 24 Nopember 2008, agenda workshop adalah membuat road journey dan rich picture dari Livelihood Learning Group oleh setiap Negara. Pembuatan road journey oleh Indonesia, Bangladesh dan Nigaragua. Sedangkan untuk rich picture adalah Ethopia, Peru, Ghana dan Benin. Setiap negara mempresentasikan hasil kerjanya dan disertai dengan tanya jawab. Kami sendiri dari Indonesia berbagi cerita sukses tentang Penguatan Komite Pangan dan Gizi Desa dalam penurunan jumlah balita gizi kurang dan gizi buruk di Kabupaten Sikka, Lembata dan Dompu. 

Pada 25 Nopember 2008, kunjungan lapangan di Sreepur PU. Perjalanan ke PU Sreepur, sekitar 2 jam dari Dhaka dengan menggunakan mobil. Setelah rombongan diterima oleh Program Unit Manager (PUM) dan dijelaskan tentang Program Unit (PU) Sreepur. Staf PU Srepur terdiri atas PUM dan beberapa Project Officer. Dalam mengimplementasikan program – programnya, PU Sreepur bermitra dengan beberapa NGO local sesuai dengan keahlian dari masing – masing NGO. Misalnya agriculture, microfinance, etc. Selanjutnya rombongan melakukan kunjungan ke desa – desa yang telah disiapkan yaitu antara lain kegiatan vaksinasi ternak sapi dan ayam, training kompos dan agriculture, kunjungan ke salah satu rumah tangga, komite desa, kunjungan ke pemerintah local (kepala union dan kepala sub district). 

Kunjungan ke posyandu hewan ternak
Kegiatan utama dari kelompok ini adalah vaksinasi hewan ternak yang umumnya adalah  sapi dan ayam. Kegiatan ini difasilitasi oleh mantri peternakan dari level kecamatan yang bekrja sama dengan kelompok peternak di desa – desa. Jadwal vaksinasi dari ternak – ternak tersebut telah diatur sedemikian rupa secara periodek. Setiap kali vaksin, para peternak membayar sebesar 2 taka perekor. Untuk lebih memudahkan memahami mekanisme kerja dari kelompok ternak ini, saya menyebutnya dengan Posyandu hewan ternak. Hasil dari peternakan sapi dan ayam yang dikelola oleh kelompok ini digunakan untuk kegiatan pertanian, dijual ke pasar hewan dan susu sapi. Sayang sekali waktu kunjungan sangat tergesa – gesa sehingga tidak sempat mendalami lebih jauh tentang kegiatan peternakan ini. Misalnya bibit, analisa usaha, pasar, kontribusi terhadap income, dan lain – lain.

Kunjungan ke kelompok agriculture
Pada saat kunjungan, mereka sedang mengadakan pelatihan pupuk kompos yang difasilitasi oleh staf dinas pertanian dari level kecamatan. Kegiatan ini juga adalah atas kerja sama antara kelompok tani dengan dinas pertanian setempat. Kompos digunakan untuk tanaman padi, sayur – sayuran dan tanaman pekarangan lainnya.

Kunjungan ke rumah tangga
Tradisi rumah tangga di Bangladesh sama dengan di India yaitu mereka tinggal bersama dengan keluarga besar. Biasanya dalam satu rumah terdiri dari beberapa rumah tangga. Semua anak laki – laki akan membawa isterinya tinggal bersama di rumah dan semua anak perempuan akan ikut tinggal bersama keluara suaminya. Bangunan rumah terdiri atas beberapa bangunan yang berhadap – hadapan sehingga membentuk persegi empat. Bagian tengah adalah tanah kosong yang sekaligus digunakan untuk menjemur padi, pakaian, dan kegiatan pengolahan pangan lainnya. Dapur berada pada salah satu bangunan. Rumah tradisional terbuat dari tanah liat yang dibentuk menyerupai bangunan yang terbuat dari batu dan semen. Dinding dan lantai sama – sama terbuat dari tanah sedangkan atap terbuat dari genteng yang juga terbuat dari tanah liat.

Kunjungan ke Pemerintah Union
Tingkatan pemerintahan di Bangladesh terdiri atas pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah district (kabupaten), pemerintah kecamatan (sub district), pemerintah union, pemerintah desa. Level union biasanya terdiri dari 10 – 15 desa. Union juga adalah daerah otonom dimana pemerintahnya dipilih langsung oleh rakyat. Pemerintah di tingkat union mengkoordinir kemitraan dengan lembaga – lembaga non pemerintah yang bekerja di wilayah masing – masing dengan melakukan rapat koordinasi secara periodek sehingga hubungan yang sangat harmonis antara lembaga – lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah dapat berjalan dengan baik.

Kunjungan ke pemerintah sub district
Kunjungan ke pemerintah tingkat sub district diterima oleh wakil kepala sub district dan didampingi oleh wakil – wakil dari departemen antara lain pertanian, peternakan, pendidikan, kesehatan dan sanitasi dan lingkungan hidup. Yang dijelaskan adalah bagaimana peran dari pemerintah setempat memfasilitasi kerja sama antara pemerintah dan NGO dengan melakukan rapat koordinasi yang terjadwal dan kunjungan ke masyarakat. Dia menjelsakn pula keberhasilan yang dicapai atas kerja sama dengan NGO adalah tercapainya 100% ketersediaan latrine (jamban keluarga) di wilayahnya.
Ada sesuatu yang membuat saya sangat penasaran setiap kali diterima di ruang meeting oleh pemerintah setempat. Sesuatu itu adalah pada kursi pimpinan, selalu ditaruh sehelai handuk di bagian sandaran kursi tersebut. Karena rasa penasaran yang tak tertahanka, maka sayapun bertanya kepada salah seorang staf pemerintahan yang dikunjungi perihal handuk yang terpajang di kursi pimpinan tersebut. Ooo my GOD, ternyata itu adalah simbol penghargaan bagi 'pemimpin' yang duduk di kursi tersebut. Cuma sayangnya saya tidak mendapatkan penjelasan lebih lanjut, mengapa menggunakan handuk? Bukankah Bangladesh sangat terkenal dengan produksi kain sari? Mengapa bukan kain sari? Tapi sudahlah, yang terpenting saya sudah tahu bahwa kursi yang digantungi handuk adalah kursi yang akan diduduki oleh pemimpin sebagai bentuk penghormatan.

Pada 26 Nopember 2008, kegiatan workshop kembali dilakukan di ruangan dengan agenda sebagai berikut refleksi untuk hari kedua yang dibawakan oleh Plan Indonesia dan refleksi hari ketiga oleh Plan Peru dan Nigaragua. Saya sendiri mempresentasikan hasil – hasil refleksi yang dihasilkan oleh Plan Indonesia. Agak nerfous juga membacakan presentasi ini karena harus dalam bahasa Inggeris. Namun setelah memulai, keadaan dapat dikendalikan dengan baik dan presentasi dapat berjalan dengan normal. Memang harus lebih banyak lagi membaiasakn diri berkomunikasi verbal dalam bahasa Inggeris agar nerfouse dapat diminimalisir jika tampil pada event – event international termasuk membaca teks – teks dalam bahasa Inggeris dengan suara. Agenda selanjutnya adalah presentasi dari Benin dan Ghana karena mereka terlambat datang sehingga agenda yang seharusnya dilakukan pada hari pertama dan kedua, dengan terpaksa dilakukan lagi khsusu untuk kedua negara ini. Yang menarik adalah presentasi Benin yang dibawakan dengan menggunakan bahasa France. Sedangkan Ghana dibawakan dalam bahasa Inggeris karena ternyata Ghana adalah salah satu negara yang berutur dalam bahasa Inggeris.

Pada 26 Nopember 2008, salah satu presentasi yang menarik adalah tentang the most significant change yang dibawakan oleh Evelin dan sharing field practice oleh PSM Plan Bangladesh (Mr. Syaiful Islam).

Pada 27 Nopember 2008, penyusunan action plan dari masing – masing negara dan evaluasi. Setiap negara mempresentasikan action plan yang akan dilakukan dalam rangka menindaklanjuti beberapa rekomendasi yang dihasilkan selama workshop sehingga ALP betul – betul dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas program terutama FNS project.

Pada 27 Nopember 2008 malam diadakan jamuan makan malam oleh Plan Bangladesh di salah satu restoran mewah di Dhaka. Makan malam diisi dengan pertunjukan kesenian tradisional yang dipersembahkan oleh kelompok binaan dari Plan Bangladesh. Kesenian yang ditampilkan adalah musik dan tari tradisional Bangladesh. Karena musiknya sangat mirip dengan irama musik dangdut, maka saya memberanikan diri menyanyi dangdut yaitu Qana. Ternyata lagu qana yang saya bawakan seadanya ini cukup membuat suasana menjadi lebih hidup dan lebih cair karena semua peserta akhirnya berjoget dan menari bersama. Lumayan suasana makan malam ini cukup membawa kondisi lebih segar dan enjoy. Dan pada malam itu pula selepas makan malam, rombongan Plan Indonesia langsung ke Bandara Zia untuk pulang ke Jakarta dengan pesawat SQ pada jam 23.00 waktu Dhaka via Singapura dan mendarat di Bandara Sukarno Hatta pada pukul 8.00 wib.               



Ditulis di Jakarta pada 1 Desember 2008



Syamsu Salewangang Daeng Gajang  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar